![]() |
| Ilustrasi |
Hri ini, 529 thn yg dulu. Muslim Spanyol di Granada ketakutan. Terbayang apa yg dapat berlangsung sesaat lagi. Pasukan Salib yg sudah menaklukkan kota itu, tentu tak membiarkan mereka hidup. Terlebih informasi kebengisan Pasukan Salib telah tersebar dari mulut ke mulut. Mereka kerap membantai kaum muslimin; tak peduli belia atau sepuh, laki laki atau perempuan, dewasa ataupun remaja, bahkan balita.
Itulah yg mereka dengar, & demikianlah faktanya. Pasukan Salib seakan haus darah kaum muslimin. Waktu mereka memenangkan peperangan, masjid-masjid juga digenangi darah kaum muslimin. Padahal kaum muslimin itu bukan tentara. Rakyat sipil.
Tetapi perasaan takut kaum muslimin seketika bercampur dgn kaget & secercah angan-angan. "Wahai para muslim Granada, kalian boleh hidup aman di luar Spanyol. Sehingga keluarlah kalian. Mari berlayar & tinggalkan kota ini!" begitu inti pengumuman yg dikeluarkan oleh Pasukan Salib.
Semula tidak sedikit kaum muslimin yg ragu dapat pengumuman itu. Tetapi kemauan mereka utk hidup dalam Islam mendorong mereka buat ke luar dari persembunyiannya. Mereka menginginkan, walau terusir dari tanah air tidak dengan mengambil apa-apa, mereka sanggup hidup dgn anak-anak yg dapat menambahkan agama mulia. Satu per satu mereka ke luar menuju pelabuhan.
Memang Lah benar. Di pelabuhan telah menanti kapal yg bakal mengangkut mereka berlayar ke luar Spanyol. Ribuan muslim dalam kapal yg rata-rata terdiri dari perempuan & anak-anak itu mulai sejak cerah wajahnya. Ada angan-angan hidup. Tapi, angan-angan ini langsung sirna. Jerit histeris anak-anak memenuhi kapal. Tangis para perempuan muslimah melipatgandakan kesedihan yg bercampur takut, amarah, & merasa bingung. Kapal itu dibakar! Dibakar oleh pasukan Salib. Nyatanya seluruhnya telah direncanakan.
Sehingga bersamaan dgn terbakarnya kapal, mulailah puing-puingnya jatuh memenuhi laut, perempuan & anak-anak juga terpanggang. Tak perlu kala lama kapal itu serta-merta tenggelam. Mereka yg pernah selamat dari kobaran api & hendak lari, disambut dgn sabetan pedang pasukan Salib. Laut juga beralih warna jadi merah kehitam-hitaman. Jadi saksi putusnya suatu generasi muslim di Andalusia, sebutan Spanyol diwaktu itu.
1 April 1487. Hri itu seterusnya dikenal bersama nama "The April Fool Day". Seiring bergulirnya dikala, hri itu disamarkan & dikenang bersama sebutan April Mop. Demi mengabadikan kemenangan licik itu, April Mop diperingati dgn "ritual" boleh mengerjai, menipu & menjahili orang lain kepada tanggal ini. & orang yg dikerjai, tak boleh geram.
Walaupun tak sepopuler Hri Valentin, April Mop nyatanya pula tidak sedikit diikuti oleh remaja Islam kita. Beliau serta dirayakan oleh beragam kalangan bersama "mengerjai" orang lain, termasuk juga keluarga atau customer-nya.
Seperti kata Ibnu Khaldun, bangsa yg dikalahkan tidak sedikit mengekor bangsa yg mengalahkannya. beberapa perihal dari luar Islam yg waktu ini ditiru demikian saja oleh umat Islam, khususnya para remajanya. Termasuk Juga April Mop. Mereka tak tahu, disaat mereka ikut-ikutan merayakan, sesungguhnya mereka tengah merayakan pembantaian atas saudara-saudaranya; yg umumnya korbannya seusia ibu-ibu kita. Merayakan April Mop berarti merayakan kekalahan kita, sekaligus merayakan kemenangan musuh kita.
Rasulullah bahkan memperingatkan bahwa tiap-tiap kebiasaan non muslim –khususnya yg menyangkut bersama ritus- yaitu unsur magnetis yg menciptakan kita sanggup terafiliasi dalam hakikat entitas mereka. "Man tasyabbaha bi qaumin, fa huwa minhum" Siapa yg menyerupai satu buah kaum, sehingga termasuk juga golongan mereka. Sehingga apakah kau turut merayakan April Mop? Mudah-mudahan jawabannya tegas : "Tidak!" [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]
*Tulisan ini sempat dimuat di Bersamadakwah.com
Itulah yg mereka dengar, & demikianlah faktanya. Pasukan Salib seakan haus darah kaum muslimin. Waktu mereka memenangkan peperangan, masjid-masjid juga digenangi darah kaum muslimin. Padahal kaum muslimin itu bukan tentara. Rakyat sipil.
Tetapi perasaan takut kaum muslimin seketika bercampur dgn kaget & secercah angan-angan. "Wahai para muslim Granada, kalian boleh hidup aman di luar Spanyol. Sehingga keluarlah kalian. Mari berlayar & tinggalkan kota ini!" begitu inti pengumuman yg dikeluarkan oleh Pasukan Salib.
Semula tidak sedikit kaum muslimin yg ragu dapat pengumuman itu. Tetapi kemauan mereka utk hidup dalam Islam mendorong mereka buat ke luar dari persembunyiannya. Mereka menginginkan, walau terusir dari tanah air tidak dengan mengambil apa-apa, mereka sanggup hidup dgn anak-anak yg dapat menambahkan agama mulia. Satu per satu mereka ke luar menuju pelabuhan.
Memang Lah benar. Di pelabuhan telah menanti kapal yg bakal mengangkut mereka berlayar ke luar Spanyol. Ribuan muslim dalam kapal yg rata-rata terdiri dari perempuan & anak-anak itu mulai sejak cerah wajahnya. Ada angan-angan hidup. Tapi, angan-angan ini langsung sirna. Jerit histeris anak-anak memenuhi kapal. Tangis para perempuan muslimah melipatgandakan kesedihan yg bercampur takut, amarah, & merasa bingung. Kapal itu dibakar! Dibakar oleh pasukan Salib. Nyatanya seluruhnya telah direncanakan.
Sehingga bersamaan dgn terbakarnya kapal, mulailah puing-puingnya jatuh memenuhi laut, perempuan & anak-anak juga terpanggang. Tak perlu kala lama kapal itu serta-merta tenggelam. Mereka yg pernah selamat dari kobaran api & hendak lari, disambut dgn sabetan pedang pasukan Salib. Laut juga beralih warna jadi merah kehitam-hitaman. Jadi saksi putusnya suatu generasi muslim di Andalusia, sebutan Spanyol diwaktu itu.
1 April 1487. Hri itu seterusnya dikenal bersama nama "The April Fool Day". Seiring bergulirnya dikala, hri itu disamarkan & dikenang bersama sebutan April Mop. Demi mengabadikan kemenangan licik itu, April Mop diperingati dgn "ritual" boleh mengerjai, menipu & menjahili orang lain kepada tanggal ini. & orang yg dikerjai, tak boleh geram.
Walaupun tak sepopuler Hri Valentin, April Mop nyatanya pula tidak sedikit diikuti oleh remaja Islam kita. Beliau serta dirayakan oleh beragam kalangan bersama "mengerjai" orang lain, termasuk juga keluarga atau customer-nya.
Seperti kata Ibnu Khaldun, bangsa yg dikalahkan tidak sedikit mengekor bangsa yg mengalahkannya. beberapa perihal dari luar Islam yg waktu ini ditiru demikian saja oleh umat Islam, khususnya para remajanya. Termasuk Juga April Mop. Mereka tak tahu, disaat mereka ikut-ikutan merayakan, sesungguhnya mereka tengah merayakan pembantaian atas saudara-saudaranya; yg umumnya korbannya seusia ibu-ibu kita. Merayakan April Mop berarti merayakan kekalahan kita, sekaligus merayakan kemenangan musuh kita.
Rasulullah bahkan memperingatkan bahwa tiap-tiap kebiasaan non muslim –khususnya yg menyangkut bersama ritus- yaitu unsur magnetis yg menciptakan kita sanggup terafiliasi dalam hakikat entitas mereka. "Man tasyabbaha bi qaumin, fa huwa minhum" Siapa yg menyerupai satu buah kaum, sehingga termasuk juga golongan mereka. Sehingga apakah kau turut merayakan April Mop? Mudah-mudahan jawabannya tegas : "Tidak!" [Muchlisin BK/Tarbiyah.net]
*Tulisan ini sempat dimuat di Bersamadakwah.com

No comments:
Post a Comment